Jumat, 19 April 2013


A.      PENGERTIAN EKONOMI SECARA UMUM
Ekonomi adalah suatu ilmu mengenai asas-asas produksi, distribusi dan pemakaian barang-barang serta kekayaan (seperti halnya keuangan perindustrian dan perdagangan) . Pada mulanya ekonomi cukup sederhana yaitu pengaturan administrasi sumber-sumber penghasilan dirumah tangga maupun disebuah organisasi besar. Ilmu ekonomi adalah suatu ilmu yang mempelajari suatu masyarakat dalam usahanya mencapai kemakmuran.
Kemakmuran tersebut adalah suatu keadaan dimana menusia dapat memenuhi kebutuhan baik barang maupun jasa-jasa.
Konsep ekonomi dalam agama buddha adalah
1)      Bekerja keras tanpa membuang-buang waktu mereka yang sangat berharga untuk mendapatkan uang,
2)      Menabung untuk masa depan untuk menopang keluarga,
3)      Memenuhi tugas dan kewajiban hati-hati dengan mengeluarkan uang dari apa yang dihasilkan dengan tanpa boros (D.iii.31).
Tidak menunda suatu pekerjaan apapun merupakan konsep dasar dalam pencarian kekayaan (D.iii.31). Dalam memenuhi perekonomian, manusia harus aktif agar perekonomian yang dicapai dapat seimbang.
Prinsip dasar ekonomi modern bahwa orang hanya akan setuju melakukan sesuatu hanya ketika mereka yakin dapat menggantinya dengan sesuatu yang memberikan kepuasan yang sama atau lebih memuaskan. Tetapi prinsip dasar modern mempertimbangkan kepuasan yang datang dari kepemilikan benda-benda.
Kesederhanaan tanpa kekerasan juga merupakan konsep dasar ilmu ekonomi dalam agama Buddha. Polanya sangat rasional dengan cara dan alat yang digunakan sedikit guna mencapai hasil yang memuaskan. Ilmu ekonomi modern menganggap bahwa konsumsi merupakan satu-satunya tujuan dari segala kegiatan ekonomi dan Faktor-faktor produksi tanah, buruh, modal yaitu sebagai alat ilmu komunikasi modern berusaha memaksimumkan konsumsi dengan pola produksi yang optimal. Pemikir buddhis memaksimumkan kepuasn manusia dengan pola konsumsi yang optimal. 
B.     Agama Buddha Dan Ekonomi
Buddhisme tidak mengajarkan pertentangan kelas atau pertentangan kelompok. Sebaliknya dengan jelas Sang Buddha mengajarkan kebesaran seorang individu tidak tergatung pada kekayaannya melainkan karakternya, tindakan seorang secara kwalitatif menentukan kebesaran sesorang. Jika seseorang memperoleh kekayaan melalui cara yang jahat dan salah, maka orang itu telah melakukan banyak sekali kerusakan baik terhadap dirinya maupun orang lain. Kebahagiaan sejati akan menghindari dirinya demikian pula seseorang sebaiknya dengan bijaksana menggunakan apa yang telah di perolehnya. 
Buddhisme tidak menentang memperoleh kekayaan secara benar melalui mata pencaharian yang merupakan satu dari delapan jalan utama yaitu:
1.      Mata pencaharian benar
Mereka yang menjalankan penghidupan secara benar tidak akan merugikan makhluk lain. Buddha memperhatikan baik dan buruknya suatu barang yang diperdagangkan. Sehubungan dengan ajaran tentang sila terdapat lima jenis perdagangan yang harus dihindari. Lima jenis perdagangan yang harus dihindari adalah: 
·         Berdagang senjata 
·          Berdagang makhluk hidup 
·         Berdagang daging 
·         Berdagang miniman keras 
·          Berdagang racun 
2.      Jalan tengah
Manajemen ekonomi agama Buddha berbeda dengan ilmu ekonomi berdasarkan materialisme modern. Penganut agama Buddha berminat pada pembebasan dan tidak melekat pada benda atau barang. Dalam manajemen ekonomi agama Buddha mengajarkan jalan tengah sehingga sama sekali tidak memusuhi kesejahteraan material yaitu jalan yang bisa menyelesaikan masalah kehidupan.
Menurut para ahli Ekonomi buddhis tidak hanya mempetimbangkan nilai-nilai etika dari suatu kegiatan ekonomi , tetapi juga berjuang untuk memahami realitas dan mengarahkan kegiatan ekonomi pada keharmonisan dengan ”hal seperti apa adannya”.
Dalam Anguttara Nikaya IV, 285 Sang Buddha menjabarkan bahwa keberhasilan usaha kita paling sedikit tergantung pada empat faktor utama yaitu:
1)      Utthanasampada
Rajin dan bersemangat di dalam bekerja. Semangat, menduduki urutan pertama untuk menentukan kesuksesan kita karena pekerjaan kita tidak akan berhasil bila dikerjakan dengan setengah hati.
Unsur dalam semangat adalah keinginan untuk menjadi orang nomor satu di lingkungan kita. Selain keinginan menjadi orang nomor satu, uang, kekuasaan dan status juga dapat memacu semangat kita.
Semangat bekerja akan mudah didapat bila jenis pekerjaan yang dilakukan adalah menjadi kesenangan kita atau kalau dapat bahkan sejalan dengan hobby atau bakat kita.
Dalam menghadapi situasi ekonomi saat ini yang sangat ketat persaingannya maka kepandaian saja bukanlah satu-satunya jaminan keberhasilan namun Ketrampilan atau Kemampuan Khusus menjadi factor penting menuju kesuksesan, disamping kerja keras, pelatihan, pengalaman dan strategi.
Buddha Dhamma memandang kerja itu paling sedikit mempunyai tiga fungsi, yaitu:
a)      Memberi kesempatan kepada orang untuk menggunakan dan mengembangkan bakatnya.
b)      Agar orang dapat mengatasi egoismenya dengan jalan bergabung dengan orang lain untuk melaksanakan tugasnya.
c)       Menghasilkan barang dan jasa yang perlu untuk kehidupan yang layak.
Kerja hendaknya dijadikan sumber kesenangan, kesempatan untuk mengembangkan kreatifitas, sarana untuk mengungkapkan potensi diri, dan mengembangkan bakat seseorang.
Pekerjaan akan menjadi sarana membentuk watak, memupuk persaudaraan dengan sesama manusia dan juga menyejahterakan kehidupan kita.
2)      Arakkhasampada
 Penuh hati-hati menjaga kekayaan yang telah diperoleh. Memelihara kesuksesan adalah hal pokok kedua yang kadang diremehkan oleh sebagian orang yang telah merasa berhasil dalam usahanya.
Menjaga kesuksesan di sini termasuk menjaga sistem yang digunakan dan hasil yang didapat serta berusaha untuk lebih meningkatkannya lagi. Meningkatkan sistem yang dipakai dan sekaligus akan meningkatkan hasil produksi kita dalam menejemen modern dikenal dengan istilah swot Strength, Weakness, Opportunity, Threat. Hal serupa juga telah diuraikan caranya oleh Sang Buddha dalam salah satu unsur Jalan Mulia Berunsur Delapan yaitu daya upaya benar.
Evaluasi ini disebutkan sebagai empat cara (Padhana) yang terdapat dalam Anguttara Nikaya II, 16 :
a)      Sangvarappadhana :
Usaha agar kekurangan yang belum dimiliki tidak timbul
dalam diri kita, bandingkan dengan Opportunity.
b)      Pahanappadhana :
Usaha untuk menghilangkan kekurangan yang sudah
dimiliki, bandingkan dengan Weakness.
c)      Bhavanappadhana :
Usaha untuk menumbuhkan kelebihan yang BELUM
dimiliki, bandingkan dengan Threat.
d)     Anurakkhappadhana :
Usaha untuk mengembangkan kelebihan yang sudah
dimiliki, bandingkan dengan Strength.
Jadi, setelah mencapai keberhasilan suatu usaha hendaknya kita mau mencari faktor-faktor yang menyebabkannya dan kemudian berusaha untuk lebih meningkatkannya lagi, sedangkan bila menemui kegagalan pun haruslah ia dijadikan sahabat kita. Kegagalan itu ibarat persimpangan jalan yang paling penting menuju kerja yang lebih termotivasi.
3)      Kalyanamittata
Memiliki teman yang bersusila Dalam pengertian Buddhis, teman dan lingkungan yang baik akan memberikan pengaruh cukup besar untuk kemajuan usaha kita.
Teman tersebut akan mampu memberikan ide-ide segar dan dukungan moral agar kita maju dalam usaha.
Digha Nikaya III, 187 memberikan kriteria dasar teman yang dapat
memajukan usaha kita sebagai berikut :
a. Teman yang mampu dan mau membantu didalam berbagai cara
b. Teman yang simpati di kala suka dan duka
c. Teman yang mampu dan mau memperkenalkan kita pada hal-hal
yang bermanfaat untuk kemajuan usaha kita
d. Teman yang memiliki perasaan persahabatan yaitu dapat
memberikan kritik membangun dan jalan keluarnya, serta dapat
memberikan pujian yang tulus agar memberikan dorongan semangat.
Sedangkan agar dapat memperoleh serta membina teman yang baik
dan juga termasuk rekanan kerja yang sesuai, Anguttara Nikaya II,
32 menguraikan hal-hal perlu kita laksanakan :
1. Dana : Kerelaan
2. Piyavaca : Ucapan yang menyenangkan dan halus
3. Atthacariya : Melakukan hal-hal yang berguna untuk orang lain
4. Samanattata : Memiliki ketenangan batin, tidak sombong
4)      Samajivita
     Hidup sesuai dengan pendapatan, tidak boros dan juga tidak kikir. Materi dalam Agama Buddha bukanlah musuh yang harus dihindari, namun ia juga bukan pula majikan yang harus kita puja. Hendaknya kita bersikap netral terhadap materi serta mampu mempergunakannya sewajarnya sesuai dengan kebutuhan.
Digha Nikaya III, 188 mengajarakan penggunaan materi yang seimbang dilakukan dengan membagi keuntungan yang didapat dalam beberapa bagian :
50% : dipakai untuk menambah modal usaha
25% : digunakan untuk membiayai hidup sehari-hari
25% : disimpan sebagai cadangan di saat darurat, untuk berdana dan kegiatan sosial lainnya.
Dengan menggunakan rumus di atas, kemewahan dan kekikiran menjadi relatif sifatnya. Kita tidak akan gampang mengatakan seseorang hidup bermewah-mewah ataupun sebaliknya kikir dengan hanya melihat sepintas pengeluarannya.
Semua pengeluaran hendaknya disesuaikan dengan pandapatan sehingga dengan demikian pastilah kemajuan ekonomi tercapai. Salah satu kesalahan yang dilakukan kebanyakan dari kita ialah kurang mengendalikan pengeluaran padahal dengan menekan biaya serendah mungkin akan memaksimalkan keuntungan.

A.      PENGERTIAN EKONOMI SECARA UMUM
Ekonomi adalah suatu ilmu mengenai asas-asas produksi, distribusi dan pemakaian barang-barang serta kekayaan (seperti halnya keuangan perindustrian dan perdagangan) . Pada mulanya ekonomi cukup sederhana yaitu pengaturan administrasi sumber-sumber penghasilan dirumah tangga maupun disebuah organisasi besar. Ilmu ekonomi adalah suatu ilmu yang mempelajari suatu masyarakat dalam usahanya mencapai kemakmuran.
Kemakmuran tersebut adalah suatu keadaan dimana menusia dapat memenuhi kebutuhan baik barang maupun jasa-jasa.
Konsep ekonomi dalam agama buddha adalah
1)      Bekerja keras tanpa membuang-buang waktu mereka yang sangat berharga untuk mendapatkan uang,
2)      Menabung untuk masa depan untuk menopang keluarga,
3)      Memenuhi tugas dan kewajiban hati-hati dengan mengeluarkan uang dari apa yang dihasilkan dengan tanpa boros (D.iii.31).
Tidak menunda suatu pekerjaan apapun merupakan konsep dasar dalam pencarian kekayaan (D.iii.31). Dalam memenuhi perekonomian, manusia harus aktif agar perekonomian yang dicapai dapat seimbang.
Prinsip dasar ekonomi modern bahwa orang hanya akan setuju melakukan sesuatu hanya ketika mereka yakin dapat menggantinya dengan sesuatu yang memberikan kepuasan yang sama atau lebih memuaskan. Tetapi prinsip dasar modern mempertimbangkan kepuasan yang datang dari kepemilikan benda-benda.
Kesederhanaan tanpa kekerasan juga merupakan konsep dasar ilmu ekonomi dalam agama Buddha. Polanya sangat rasional dengan cara dan alat yang digunakan sedikit guna mencapai hasil yang memuaskan. Ilmu ekonomi modern menganggap bahwa konsumsi merupakan satu-satunya tujuan dari segala kegiatan ekonomi dan Faktor-faktor produksi tanah, buruh, modal yaitu sebagai alat ilmu komunikasi modern berusaha memaksimumkan konsumsi dengan pola produksi yang optimal. Pemikir buddhis memaksimumkan kepuasn manusia dengan pola konsumsi yang optimal. 
B.     Agama Buddha Dan Ekonomi
Buddhisme tidak mengajarkan pertentangan kelas atau pertentangan kelompok. Sebaliknya dengan jelas Sang Buddha mengajarkan kebesaran seorang individu tidak tergatung pada kekayaannya melainkan karakternya, tindakan seorang secara kwalitatif menentukan kebesaran sesorang. Jika seseorang memperoleh kekayaan melalui cara yang jahat dan salah, maka orang itu telah melakukan banyak sekali kerusakan baik terhadap dirinya maupun orang lain. Kebahagiaan sejati akan menghindari dirinya demikian pula seseorang sebaiknya dengan bijaksana menggunakan apa yang telah di perolehnya. 
Buddhisme tidak menentang memperoleh kekayaan secara benar melalui mata pencaharian yang merupakan satu dari delapan jalan utama yaitu:
1.      Mata pencaharian benar
Mereka yang menjalankan penghidupan secara benar tidak akan merugikan makhluk lain. Buddha memperhatikan baik dan buruknya suatu barang yang diperdagangkan. Sehubungan dengan ajaran tentang sila terdapat lima jenis perdagangan yang harus dihindari. Lima jenis perdagangan yang harus dihindari adalah: 
·         Berdagang senjata 
·          Berdagang makhluk hidup 
·         Berdagang daging 
·         Berdagang miniman keras 
·          Berdagang racun 
2.      Jalan tengah
Manajemen ekonomi agama Buddha berbeda dengan ilmu ekonomi berdasarkan materialisme modern. Penganut agama Buddha berminat pada pembebasan dan tidak melekat pada benda atau barang. Dalam manajemen ekonomi agama Buddha mengajarkan jalan tengah sehingga sama sekali tidak memusuhi kesejahteraan material yaitu jalan yang bisa menyelesaikan masalah kehidupan.
Menurut para ahli Ekonomi buddhis tidak hanya mempetimbangkan nilai-nilai etika dari suatu kegiatan ekonomi , tetapi juga berjuang untuk memahami realitas dan mengarahkan kegiatan ekonomi pada keharmonisan dengan ”hal seperti apa adannya”.
Dalam Anguttara Nikaya IV, 285 Sang Buddha menjabarkan bahwa keberhasilan usaha kita paling sedikit tergantung pada empat faktor utama yaitu:
1)      Utthanasampada
Rajin dan bersemangat di dalam bekerja. Semangat, menduduki urutan pertama untuk menentukan kesuksesan kita karena pekerjaan kita tidak akan berhasil bila dikerjakan dengan setengah hati.
Unsur dalam semangat adalah keinginan untuk menjadi orang nomor satu di lingkungan kita. Selain keinginan menjadi orang nomor satu, uang, kekuasaan dan status juga dapat memacu semangat kita.
Semangat bekerja akan mudah didapat bila jenis pekerjaan yang dilakukan adalah menjadi kesenangan kita atau kalau dapat bahkan sejalan dengan hobby atau bakat kita.
Dalam menghadapi situasi ekonomi saat ini yang sangat ketat persaingannya maka kepandaian saja bukanlah satu-satunya jaminan keberhasilan namun Ketrampilan atau Kemampuan Khusus menjadi factor penting menuju kesuksesan, disamping kerja keras, pelatihan, pengalaman dan strategi.
Buddha Dhamma memandang kerja itu paling sedikit mempunyai tiga fungsi, yaitu:
a)      Memberi kesempatan kepada orang untuk menggunakan dan mengembangkan bakatnya.
b)      Agar orang dapat mengatasi egoismenya dengan jalan bergabung dengan orang lain untuk melaksanakan tugasnya.
c)       Menghasilkan barang dan jasa yang perlu untuk kehidupan yang layak.
Kerja hendaknya dijadikan sumber kesenangan, kesempatan untuk mengembangkan kreatifitas, sarana untuk mengungkapkan potensi diri, dan mengembangkan bakat seseorang.
Pekerjaan akan menjadi sarana membentuk watak, memupuk persaudaraan dengan sesama manusia dan juga menyejahterakan kehidupan kita.
2)      Arakkhasampada
 Penuh hati-hati menjaga kekayaan yang telah diperoleh. Memelihara kesuksesan adalah hal pokok kedua yang kadang diremehkan oleh sebagian orang yang telah merasa berhasil dalam usahanya.
Menjaga kesuksesan di sini termasuk menjaga sistem yang digunakan dan hasil yang didapat serta berusaha untuk lebih meningkatkannya lagi. Meningkatkan sistem yang dipakai dan sekaligus akan meningkatkan hasil produksi kita dalam menejemen modern dikenal dengan istilah swot Strength, Weakness, Opportunity, Threat. Hal serupa juga telah diuraikan caranya oleh Sang Buddha dalam salah satu unsur Jalan Mulia Berunsur Delapan yaitu daya upaya benar.
Evaluasi ini disebutkan sebagai empat cara (Padhana) yang terdapat dalam Anguttara Nikaya II, 16 :
a)      Sangvarappadhana :
Usaha agar kekurangan yang belum dimiliki tidak timbul
dalam diri kita, bandingkan dengan Opportunity.
b)      Pahanappadhana :
Usaha untuk menghilangkan kekurangan yang sudah
dimiliki, bandingkan dengan Weakness.
c)      Bhavanappadhana :
Usaha untuk menumbuhkan kelebihan yang BELUM
dimiliki, bandingkan dengan Threat.
d)     Anurakkhappadhana :
Usaha untuk mengembangkan kelebihan yang sudah
dimiliki, bandingkan dengan Strength.
Jadi, setelah mencapai keberhasilan suatu usaha hendaknya kita mau mencari faktor-faktor yang menyebabkannya dan kemudian berusaha untuk lebih meningkatkannya lagi, sedangkan bila menemui kegagalan pun haruslah ia dijadikan sahabat kita. Kegagalan itu ibarat persimpangan jalan yang paling penting menuju kerja yang lebih termotivasi.
3)      Kalyanamittata
Memiliki teman yang bersusila Dalam pengertian Buddhis, teman dan lingkungan yang baik akan memberikan pengaruh cukup besar untuk kemajuan usaha kita.
Teman tersebut akan mampu memberikan ide-ide segar dan dukungan moral agar kita maju dalam usaha.
Digha Nikaya III, 187 memberikan kriteria dasar teman yang dapat
memajukan usaha kita sebagai berikut :
a. Teman yang mampu dan mau membantu didalam berbagai cara
b. Teman yang simpati di kala suka dan duka
c. Teman yang mampu dan mau memperkenalkan kita pada hal-hal
yang bermanfaat untuk kemajuan usaha kita
d. Teman yang memiliki perasaan persahabatan yaitu dapat
memberikan kritik membangun dan jalan keluarnya, serta dapat
memberikan pujian yang tulus agar memberikan dorongan semangat.
Sedangkan agar dapat memperoleh serta membina teman yang baik
dan juga termasuk rekanan kerja yang sesuai, Anguttara Nikaya II,
32 menguraikan hal-hal perlu kita laksanakan :
1. Dana : Kerelaan
2. Piyavaca : Ucapan yang menyenangkan dan halus
3. Atthacariya : Melakukan hal-hal yang berguna untuk orang lain
4. Samanattata : Memiliki ketenangan batin, tidak sombong
4)      Samajivita
     Hidup sesuai dengan pendapatan, tidak boros dan juga tidak kikir. Materi dalam Agama Buddha bukanlah musuh yang harus dihindari, namun ia juga bukan pula majikan yang harus kita puja. Hendaknya kita bersikap netral terhadap materi serta mampu mempergunakannya sewajarnya sesuai dengan kebutuhan.
Digha Nikaya III, 188 mengajarakan penggunaan materi yang seimbang dilakukan dengan membagi keuntungan yang didapat dalam beberapa bagian :
50% : dipakai untuk menambah modal usaha
25% : digunakan untuk membiayai hidup sehari-hari
25% : disimpan sebagai cadangan di saat darurat, untuk berdana dan kegiatan sosial lainnya.
Dengan menggunakan rumus di atas, kemewahan dan kekikiran menjadi relatif sifatnya. Kita tidak akan gampang mengatakan seseorang hidup bermewah-mewah ataupun sebaliknya kikir dengan hanya melihat sepintas pengeluarannya.
Semua pengeluaran hendaknya disesuaikan dengan pandapatan sehingga dengan demikian pastilah kemajuan ekonomi tercapai. Salah satu kesalahan yang dilakukan kebanyakan dari kita ialah kurang mengendalikan pengeluaran padahal dengan menekan biaya serendah mungkin akan memaksimalkan keuntungan.

AGAMA BUDDHA DAN POLITIK MORAL


Agama memiliki kewajiban yaitu kewajiban moral agama untuk ikut mengarahkan politik agar tidak berkembang menurut seleranya sendiri yang bisa membahayakan kehidupan. Agama harus dapat menjalankan peran moral, sehingga agama harus dapat mengatasi politik, bukan terlibat langsung ke dalam politik praktis. Karena bila agama berada di dalam kooptasi politik, maka agama akan kehilangan kekuatan moralnya yang mampu mengarahkan politik agar tidak berkembang menjadi kekuatan yang menekan kehidupan dan menyimpang dari batas-batas moral dan etika agama, masyarakat, dan hukum.
Konteks keterkaitan ilmiah, hubungan antara agama dan politik harus diwaspadai sehingga tidak sampai berjalan pada posisi yang salah. Salah satu ukuran atau kunci yang paling mudah dikenal agar dapat menarik batas yang mana politik yang harus dihindari sehingga tidak terjebak ke dalam arus politik kotor, khususnya oleh kaum Buddhis adalah dengan menghindari penggunaan kekerasan. Artinya politik yang harus dihindari adalah politik yang menyangkut perebutan kekuasaan melalui penggunaan kekerasan, termasuk dengan memperalat orang lain atau suatu organisasi, serta menggunakan simbol-simbol agama yang bisa sangat menyesatkan.
Agama secara moral dan politis berada pada posisi yang benar dan agama tidak menjadi alat untuk memperebutkan atau mempertahankan status quo kekuasaan. Sehingga apabila agama mengarah kepada politik kekuasaan, maka agama dalam posisi yang salah dan berbahaya. Terdapat 2 hal keterkaitan yaitu, pertama bagaimana agama dapat membentengi diri mereka dari setiap kecenderungan/kekuatan politik yang berkembang, sehingga agama dapat tetap menjadi kekuatan pembebas dan bukan menjadi yang dibebaskan atau pencipta masalah karena telah terdistorsi oleh kekuatan-kekuatan politik tersebut. Kedua bagaimana agama dapat memainkan peran moral mereka untuk ikut mengarahkan politik agar tidak berkembang menjadi kekuatan yang menyimpang dan menekan kehidupan.
Kedua hal di atas hanya dapat berjalan dengan baik apabila manusia memiliki pemahaman yang cukup mendalam atas setiap proses politik yang berjalan. Tanpa adanya pemahaman atas proses politik, sulit bagi seseroang untuk membentengi diri karena proses pemahaman tersebut akan menimbulkan kepekaan nurani setelah politik berjalan pada arah yang salah, sekaligus menimbulkan suatu perencanaan bagaimana arah politik yang seharusnya dan diharapkan, dengan mempertimbangkan nilai-nilai yang menjadi keyakinan, baik menyangkut rasa keadilan, kebenaran, dan kemanusiaan.
Kebutaan seseorang atas persoalan politik akan membuat mudah dibodohi oleh kepentingan-kepentingan dan muatan-muatan politik yang tidak jelas arahnya. Jadi usaha agar agama tidak dikotori dan diberi muatan politik tidak berarti agama harus mengalami pendangkalan fungsinya sebagai agen pembebas. Justru pemahaman atas proses politik diperlukan karena agama memiliki peranan yang penting agar nilai-nilai moral dan spiritual mampu memberikan muatan bagi politik, bukan sebaliknya. Pemahaman atas sistem politik, baik yang menyangkut masalah ekonomi maupun sosial menjadi semakin penting bagi seorang Buddhis, karena berbicara mengenai Buddhisme adalah berbicara mengenai bagaimana memahami penderitaan, untuk kemudian memahami sebab dan jalan untuk mengatasinya. Buddhisme akan kehilangan akarnya bila tidak sanggup berbicara dan peduli dengan penderitaan dunia yang sudah sedemikian kompleks.
Penderitaan zaman sekarang tidak mudah untuk dipahami seperti penderitaan pada zaman Buddha. Masyarakat luas pada zaman Buddha tidaklah seburuk sekarang dan sistem yang ada belum terlalu kejam. Dan perubahan seseorang masih dapat memberikan pengaruh yang besar. Contohnya adalah Supata yang dikenal sebagai Anathapindika adalah seorang yang kaya raya, seorang banker pada zaman Buddha, menjadi pendukung seluruh orang miskin di wilayahnya. Tetapi pada zaman sekarang, terdapat seorang banker atau raja yang baik, atau mengganti penguasa yang lalim, tetapi tetap tidak membawa perubahan yang mendasar. Hal ini bukan semata-mata kesalahan si banker atau penguasa yang lalim.
Pemahaman atas sistem politik, ekonomi, maupun ideologi menjadi sangat penting. Usaha untuk mengatasi penghancuran lingkungan, ketidakadilan, dan berbagai kesenjangan sosial, politik, dan ekonomi, menjadi tugas seorang Buddhis. Tetapi tetap berusaha untuk menyadari bahwa setiap komitmen moral yang dimiliki terhadap usaha pembebasan penderitaan, sesungguhnya bersifat politis.
Penderitaan diatasi merupakan komitmen moral, tetapi melakukan perubahan struktural yang tidak demokratis agar rakyat terbebas dari struktur sosial yang menindas dan banyak menimbulkan penderitaan, maupun yang melanggengkan ketergantungan dan ketidak berdayaan merupakan keputusan politik. Pembebasan penderitaan tidak dapat dipahami hanya dalam konteks pribadi, karena Buddhisme selain memberi sarana bagi pembebasan pribadi, juga harus dapat melapangkan jalan bagi pembebasan sosial dan lingkungan.
Perjuangan Ambedhar, seorang pemimpin besar dan bapak konstitusi India, walaupun menjadi Buddhis pada saat akhir masa hidupnya, akan tetapi kedalaman spiritual dan intelektualnya mampu membawa ajaran Buddha dengan cara yang mengagumkan dan tidak hanya menjadikan Buddhisme sebagai sumber pencerahan pribadi, tetapi bagaimana nilai Buddhisme mampu memberikan pengharapan dan pencerahan bagi jutaan rakyat India, yang mengalami banyak ketidakadilan dan pendiskriminan. Buddhisme telah menjadi kekuatan pembebas yang begitu hebat, bukan hanya sebagai pembebasan pribadi, tapi juga pembebasan sosial dan politik.
Ambedhar senantiasa mengingatkan bahwa tidaklah cukup bagi seorang Buddhis berbicara mengenai sebab penderitaan hanya dari kebencian, keserakahan, dan kebodohan individual. Struktur sosial dan politik yang pincang adalah juga sebab penderitaan sebagai sebab-sebab yang tidak tersentuh. Sebagai seorang Buddhis, transformasi pribadi memang harus tetap dilakukan, tetapi akan tetap dibodohi bila tidak memahami secara jelas bagaimana sebuah sistem berjalan dan cara untuk mengubah sistem dan kondisi masyarakat yang menindas.
Etika sosial Buddhis telah menjadi pribadi, maka perlu menginter- pretasikan kembali sehingga sila berguna untuk menuntun cara hidup individu dan harus dapat mempertanyakan berbagai sistem dan kebijaksanaan yang berlangsung dengan melihat bagaimana suatu sistem juga mengandung suatu kekerasan dan penindasan. Pancasila Buddhis misalnya, dalam masyarakat tradisional yang hidup sederhana, masalah-masalah etika/sila juga menjadi mudah dan sederhana. Seseorang dapat saja berkata "Saya baik, saya tidak membunuh, mencuri,….." tapi ketika masyarakat sudah berkembang semakin kompleks, kesederhanaan etika menjadi kurang berfungsi. Tidak mencuri, sila kedua misalnya, secara formal seseorang bukan pencuri. Tetapi bagaimana dengan sistem tata niaga atau sistem embargo ?. Apakah hal tersebut tidak melanggar sila.
Kebijaksanaan (panna) harus mengandung pemahaman yang benar atas diri sendiri dan masyarakat. Bila kita memahami masyarakat dan bila masyarakat dalam kondisi yang diliputi oleh ketidakadilan, pengeksploitasian, dan kekerasan, bagaimana tanggapan atas hal tersebut? Apakah melepaskan tanggung jawab moral sosial dan cukup menjadi "seorang Buddhis yang baik". Apa benar Buddhisme tidak memiliki tanggung jawab dan kepedulian sosial?
Kesadaran-kesadaran yang masih perlu dibangun dan disadari oleh setiap generasi muda Buddhis para calon intelektual muda bangsa. Hal ini menjadi sesuatu yang sangat baru dan asing bagi sebagian besar masyarakat Buddhis, karena terlalu sering membiarkan diri berdiri terlalu jauh dari masalah-masalah sosial politik aktual. Tetapi dengan memahami bahwa sistem adalah bagian yang tidak terlepas dari penyebab penderitaan, seseorang dapat terbuka untuk mulai belajar dari proses sosial politik yang berlangsung, sehingga dapat semakin menyadari hakekat pembebasan yang menjadi amanat dasar dari Dharma.

E.     Agama Buddha dan Politik
Menurut C. Wright Mill semua politik pada hakikatnya adalah pertarungan kekuasaan, dan hal yang paling pokok dari kekuasaan adalah kekerasan. Agama Buddha berbeda dengan politik yaitu yang paling pokok adalah moralitas, kesucian, dan keyakinan. Sehingga agama Buddha menjaga jarak terhadap politik dan Buddha tidak berusaha mempengaruhi kekuatan politik untuk menyiarkan ajarannya, tidak juga mengizinkan ajarannya disalahgunakan untuk menguasai kekuatan politik.
Do-gen (1200-1253) yang berguru pada Ju-ching ditiongkok, dibekali pesan oleh gurunya agar tidak mendekati pembesar atau bangsawan dan jangan tinggal ditempat yang ramai. Menjauhi politik juga seperti menjauhi perangkap keduniawian. Para politikus juga dapat diarahkan agar bekerja dengan cara yang bersih dan bijaksana. Buddha memberikan petunjuk kepada penguasa menyangkut moral dan tanggungjawab dalam menggunakan kekuasaannya.
Georges Balandier berpendapat bahwa kelompok agama merupakan suatu dimensi dari suasana politik; agama dapat dijadikan alat kekuasaan, jaminan kesahannya, atau sarana yang dipakai dalam perjuangan politik. Para politikus ingin mempengaruhi semua lembaga termasuk agama guna meningkatkan pencapaian tujuan politik atau ketika gerakan agama diterima sebagai gerakan politik akan berlindung dibalik agama. Untuk kepentingan politik atau mencari legitimasi, suatu justifikasi dan legalisasi kebijaksanaan dan tindakan politik cenderung memanipulasi agama dan mereduksi pesan-pesan suci agama.
Politikus cenderung menyalahgunakan mimbar agama sehingga merusak kedamaian dan ketenteraman tempat ibadah. Moral, cinta kasih, nilai-nilai kebaikan, dan kerukunan sering kali dikorbankan. Orang atau kelompok atau juga negara dapat memaksakan dan melakukan apa saja atas nama agama, dan karena agama dapat saling menghancurkan antar sesama manusia. Agama tidak lagi melindungi  mana yang benar dan lemah.
Buddha telah menghimbau atau tidak memperbolehkan pengikutnya untuk melibatkan ajarannya atau Dhamma dalam politik negara, akan tetapi agama berperan penting dalam pengarahan politik kepada pandangan yang benar, seperti zaman raja Asoka yang menggunakan peperangan untuk menguasai kerajaan lain, tetapi setelah mengenal agama Buddha, raja Asoka merubah ketatanan negara dengan tidak menggunakan kekerasan dan raja pun membangun rumah sakit dinegara-negaranya serta berbagai perbuatan-perbuatan baik lainnya.

F.      Agama Buddha dan Perang
Perang menurut beberapa orang dapat mencapai perdamaian. Dalam ungkapan Romawi dinyatakan si vis pacem para bellum, artinya untuk mencapai perdamaian bersiaplah perang. Perang merupakan bagian dari kehidupan manusia karena kebencian dilawan dengan kebencian. Buddha menolak peperangan, memasok atau memperjualbelikan senjata juga tidak dibenarkan (A. III. 207). Dalam agama Buddha tidak ada perang suci. Karena perang hanya mengesahkan segala macam kejahatan yang dilakukan terhadap pihak lawan. Orang berperang dengan pikiran yang dipenuhi kebencian, ingin menghancurkan, membasmi, membunuh, maka orang itu terbunuh atau meninggal kemudian, ia dilahirkan di alam yang tidak menyenangkan (S. IV, 309).
Bagaimanapun Buddha mengakui eksistensi prajurit untuk menjaga keamanan dan meindungi negara, namun tradisi keprajuritan tidak berarti harus sama dengan tradisi perang. Prajurit tidak identik dengan kekerasan. Buddha tidak jarang mengemukakan sifat-sifat baik dari seorang prajurit sehubungan dengan latihan keagamaan. Misalkan, prajurit dihargai karena cakap memili medan yang menguntungkan, menembak jitu, menembak secepat kilat dan menembus  atau memenangkan objek sasaran yang luar biasa. Seorang biku mencontohkan sifat tersebut tinggal sesuai dengan cara hidup yang terlatih dan terkendali, dengan tepat menguasai pemusatan pikiran, memahami dengan tepat apa itu kebenaran dan menembus kabut kebodohan, mencapai pembebasan (A. II, 171).