Jumat, 19 April 2013


A.      PENGERTIAN EKONOMI SECARA UMUM
Ekonomi adalah suatu ilmu mengenai asas-asas produksi, distribusi dan pemakaian barang-barang serta kekayaan (seperti halnya keuangan perindustrian dan perdagangan) . Pada mulanya ekonomi cukup sederhana yaitu pengaturan administrasi sumber-sumber penghasilan dirumah tangga maupun disebuah organisasi besar. Ilmu ekonomi adalah suatu ilmu yang mempelajari suatu masyarakat dalam usahanya mencapai kemakmuran.
Kemakmuran tersebut adalah suatu keadaan dimana menusia dapat memenuhi kebutuhan baik barang maupun jasa-jasa.
Konsep ekonomi dalam agama buddha adalah
1)      Bekerja keras tanpa membuang-buang waktu mereka yang sangat berharga untuk mendapatkan uang,
2)      Menabung untuk masa depan untuk menopang keluarga,
3)      Memenuhi tugas dan kewajiban hati-hati dengan mengeluarkan uang dari apa yang dihasilkan dengan tanpa boros (D.iii.31).
Tidak menunda suatu pekerjaan apapun merupakan konsep dasar dalam pencarian kekayaan (D.iii.31). Dalam memenuhi perekonomian, manusia harus aktif agar perekonomian yang dicapai dapat seimbang.
Prinsip dasar ekonomi modern bahwa orang hanya akan setuju melakukan sesuatu hanya ketika mereka yakin dapat menggantinya dengan sesuatu yang memberikan kepuasan yang sama atau lebih memuaskan. Tetapi prinsip dasar modern mempertimbangkan kepuasan yang datang dari kepemilikan benda-benda.
Kesederhanaan tanpa kekerasan juga merupakan konsep dasar ilmu ekonomi dalam agama Buddha. Polanya sangat rasional dengan cara dan alat yang digunakan sedikit guna mencapai hasil yang memuaskan. Ilmu ekonomi modern menganggap bahwa konsumsi merupakan satu-satunya tujuan dari segala kegiatan ekonomi dan Faktor-faktor produksi tanah, buruh, modal yaitu sebagai alat ilmu komunikasi modern berusaha memaksimumkan konsumsi dengan pola produksi yang optimal. Pemikir buddhis memaksimumkan kepuasn manusia dengan pola konsumsi yang optimal. 
B.     Agama Buddha Dan Ekonomi
Buddhisme tidak mengajarkan pertentangan kelas atau pertentangan kelompok. Sebaliknya dengan jelas Sang Buddha mengajarkan kebesaran seorang individu tidak tergatung pada kekayaannya melainkan karakternya, tindakan seorang secara kwalitatif menentukan kebesaran sesorang. Jika seseorang memperoleh kekayaan melalui cara yang jahat dan salah, maka orang itu telah melakukan banyak sekali kerusakan baik terhadap dirinya maupun orang lain. Kebahagiaan sejati akan menghindari dirinya demikian pula seseorang sebaiknya dengan bijaksana menggunakan apa yang telah di perolehnya. 
Buddhisme tidak menentang memperoleh kekayaan secara benar melalui mata pencaharian yang merupakan satu dari delapan jalan utama yaitu:
1.      Mata pencaharian benar
Mereka yang menjalankan penghidupan secara benar tidak akan merugikan makhluk lain. Buddha memperhatikan baik dan buruknya suatu barang yang diperdagangkan. Sehubungan dengan ajaran tentang sila terdapat lima jenis perdagangan yang harus dihindari. Lima jenis perdagangan yang harus dihindari adalah: 
·         Berdagang senjata 
·          Berdagang makhluk hidup 
·         Berdagang daging 
·         Berdagang miniman keras 
·          Berdagang racun 
2.      Jalan tengah
Manajemen ekonomi agama Buddha berbeda dengan ilmu ekonomi berdasarkan materialisme modern. Penganut agama Buddha berminat pada pembebasan dan tidak melekat pada benda atau barang. Dalam manajemen ekonomi agama Buddha mengajarkan jalan tengah sehingga sama sekali tidak memusuhi kesejahteraan material yaitu jalan yang bisa menyelesaikan masalah kehidupan.
Menurut para ahli Ekonomi buddhis tidak hanya mempetimbangkan nilai-nilai etika dari suatu kegiatan ekonomi , tetapi juga berjuang untuk memahami realitas dan mengarahkan kegiatan ekonomi pada keharmonisan dengan ”hal seperti apa adannya”.
Dalam Anguttara Nikaya IV, 285 Sang Buddha menjabarkan bahwa keberhasilan usaha kita paling sedikit tergantung pada empat faktor utama yaitu:
1)      Utthanasampada
Rajin dan bersemangat di dalam bekerja. Semangat, menduduki urutan pertama untuk menentukan kesuksesan kita karena pekerjaan kita tidak akan berhasil bila dikerjakan dengan setengah hati.
Unsur dalam semangat adalah keinginan untuk menjadi orang nomor satu di lingkungan kita. Selain keinginan menjadi orang nomor satu, uang, kekuasaan dan status juga dapat memacu semangat kita.
Semangat bekerja akan mudah didapat bila jenis pekerjaan yang dilakukan adalah menjadi kesenangan kita atau kalau dapat bahkan sejalan dengan hobby atau bakat kita.
Dalam menghadapi situasi ekonomi saat ini yang sangat ketat persaingannya maka kepandaian saja bukanlah satu-satunya jaminan keberhasilan namun Ketrampilan atau Kemampuan Khusus menjadi factor penting menuju kesuksesan, disamping kerja keras, pelatihan, pengalaman dan strategi.
Buddha Dhamma memandang kerja itu paling sedikit mempunyai tiga fungsi, yaitu:
a)      Memberi kesempatan kepada orang untuk menggunakan dan mengembangkan bakatnya.
b)      Agar orang dapat mengatasi egoismenya dengan jalan bergabung dengan orang lain untuk melaksanakan tugasnya.
c)       Menghasilkan barang dan jasa yang perlu untuk kehidupan yang layak.
Kerja hendaknya dijadikan sumber kesenangan, kesempatan untuk mengembangkan kreatifitas, sarana untuk mengungkapkan potensi diri, dan mengembangkan bakat seseorang.
Pekerjaan akan menjadi sarana membentuk watak, memupuk persaudaraan dengan sesama manusia dan juga menyejahterakan kehidupan kita.
2)      Arakkhasampada
 Penuh hati-hati menjaga kekayaan yang telah diperoleh. Memelihara kesuksesan adalah hal pokok kedua yang kadang diremehkan oleh sebagian orang yang telah merasa berhasil dalam usahanya.
Menjaga kesuksesan di sini termasuk menjaga sistem yang digunakan dan hasil yang didapat serta berusaha untuk lebih meningkatkannya lagi. Meningkatkan sistem yang dipakai dan sekaligus akan meningkatkan hasil produksi kita dalam menejemen modern dikenal dengan istilah swot Strength, Weakness, Opportunity, Threat. Hal serupa juga telah diuraikan caranya oleh Sang Buddha dalam salah satu unsur Jalan Mulia Berunsur Delapan yaitu daya upaya benar.
Evaluasi ini disebutkan sebagai empat cara (Padhana) yang terdapat dalam Anguttara Nikaya II, 16 :
a)      Sangvarappadhana :
Usaha agar kekurangan yang belum dimiliki tidak timbul
dalam diri kita, bandingkan dengan Opportunity.
b)      Pahanappadhana :
Usaha untuk menghilangkan kekurangan yang sudah
dimiliki, bandingkan dengan Weakness.
c)      Bhavanappadhana :
Usaha untuk menumbuhkan kelebihan yang BELUM
dimiliki, bandingkan dengan Threat.
d)     Anurakkhappadhana :
Usaha untuk mengembangkan kelebihan yang sudah
dimiliki, bandingkan dengan Strength.
Jadi, setelah mencapai keberhasilan suatu usaha hendaknya kita mau mencari faktor-faktor yang menyebabkannya dan kemudian berusaha untuk lebih meningkatkannya lagi, sedangkan bila menemui kegagalan pun haruslah ia dijadikan sahabat kita. Kegagalan itu ibarat persimpangan jalan yang paling penting menuju kerja yang lebih termotivasi.
3)      Kalyanamittata
Memiliki teman yang bersusila Dalam pengertian Buddhis, teman dan lingkungan yang baik akan memberikan pengaruh cukup besar untuk kemajuan usaha kita.
Teman tersebut akan mampu memberikan ide-ide segar dan dukungan moral agar kita maju dalam usaha.
Digha Nikaya III, 187 memberikan kriteria dasar teman yang dapat
memajukan usaha kita sebagai berikut :
a. Teman yang mampu dan mau membantu didalam berbagai cara
b. Teman yang simpati di kala suka dan duka
c. Teman yang mampu dan mau memperkenalkan kita pada hal-hal
yang bermanfaat untuk kemajuan usaha kita
d. Teman yang memiliki perasaan persahabatan yaitu dapat
memberikan kritik membangun dan jalan keluarnya, serta dapat
memberikan pujian yang tulus agar memberikan dorongan semangat.
Sedangkan agar dapat memperoleh serta membina teman yang baik
dan juga termasuk rekanan kerja yang sesuai, Anguttara Nikaya II,
32 menguraikan hal-hal perlu kita laksanakan :
1. Dana : Kerelaan
2. Piyavaca : Ucapan yang menyenangkan dan halus
3. Atthacariya : Melakukan hal-hal yang berguna untuk orang lain
4. Samanattata : Memiliki ketenangan batin, tidak sombong
4)      Samajivita
     Hidup sesuai dengan pendapatan, tidak boros dan juga tidak kikir. Materi dalam Agama Buddha bukanlah musuh yang harus dihindari, namun ia juga bukan pula majikan yang harus kita puja. Hendaknya kita bersikap netral terhadap materi serta mampu mempergunakannya sewajarnya sesuai dengan kebutuhan.
Digha Nikaya III, 188 mengajarakan penggunaan materi yang seimbang dilakukan dengan membagi keuntungan yang didapat dalam beberapa bagian :
50% : dipakai untuk menambah modal usaha
25% : digunakan untuk membiayai hidup sehari-hari
25% : disimpan sebagai cadangan di saat darurat, untuk berdana dan kegiatan sosial lainnya.
Dengan menggunakan rumus di atas, kemewahan dan kekikiran menjadi relatif sifatnya. Kita tidak akan gampang mengatakan seseorang hidup bermewah-mewah ataupun sebaliknya kikir dengan hanya melihat sepintas pengeluarannya.
Semua pengeluaran hendaknya disesuaikan dengan pandapatan sehingga dengan demikian pastilah kemajuan ekonomi tercapai. Salah satu kesalahan yang dilakukan kebanyakan dari kita ialah kurang mengendalikan pengeluaran padahal dengan menekan biaya serendah mungkin akan memaksimalkan keuntungan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar